Tampilkan postingan dengan label tutorial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tutorial. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Mei 2017

{ tutorial } Menjahit Tanpa Mengobras: Kampuh Balik

Mesin obras bukan alat yang sangat krusial untuk dimiliki oleh seorang penjahit, tapi kehadirannya pastilah nggak akan tertolak oleh orang yang sering berurusan dengan jahit menjahit. Terutama menjahit pakaian demi melindungi pinggiran kainnya. Terus gimana kalau ngggak punya mesin obras? Masak terus nggak jadi njahit? Tenang saja.. jaman moyang kita dulu juga nggak punya mesin obras. Nggak ada malah! Tapi untungnya ada jurus khusus supaya pinggiran kain kita nggak mbrodol (baca: bertiras) yang udah dipake sejak jaman ja mbajuja (apaan coba?). Namanya kampuh balik. Intinya pinggiran kainnya itu disembunyiin di dalam jahitan kampuh, jadi bagian yang mbrodol nggak kelihatan dari luar maupun dalam.. Daripada mumet mbayanginnya, lihat tutorial ini aja deh. Contoh yang ada di sini ceritanya lagi njahit sisi samping lengan.

Untuk membuat kampuh balik ini, beri pakaian yang akan dijahit kampuh selebar 1,5cm.

1. Lipat sisi panjang lengan supaya sisi samping lengan bertumpuk. Bagian buruk/dalam kain saling berhadapan. Semat dengan jarum.


2. Jahit dengan jarak 0,75cm dari tepi kain. Kalau aku pribadi, setelahnya kampuh yang sudah dijahit ini aku potong/kurangi lebarnya sedikit jadi tinggal tersisa 0,5cm. Kenapa mesti ribet begini? Soalnya biasanya serat kain di bagian tepi ada yang brodol. Apalagi kalau kainnya sejenis poliester gitu. Nah, mendingan sejak sekarang tepinya dikorting aja, jadi nanti hasil akhirnya bakal lebih bersih dari serabut serat kain. Trust me!

3. Balik kain sehingga bagian baik/luar kain saling berhadapan. See? Pinggir kainnya ngumpet diantara kain sekarang. Lalu jahit selebar 0,75cm dari tepi. Habis sudah jatah kampuh 1,5cm


Dan, taraa!! Si pinggir kain yang mbrodol lenyap dari pandangan! Sekarang tinggal jahit bagian yang lain dengan step yang sama. Untuk bagian kerung lengan sebaiknya setelah step pertama digunting-gunting kampuhnya dengan jarak sekitar 1,25 cm tiap guntingan. Hati-hati jangan sampai menggunting jahitannya. Khusus bagian ini digunting-gunting, karena bagian yang bentuknya melengkung semisal kerung lengen, leher, akan lebih rapi dan mudah dijahit kalau diguntingi dulu. Untuk bagian ini aku nggak punya fotonya, cz untuk bagian kerung lengan aku lebih suka pakai obras, hehe.. #nggakmaususah

Kalau lagi cukup mood, kadang dia antara step 2 dan 3 aku setrika dulu bagian sambungan jahitan. Jadi setelah sisi kain yang buruk berada di luar, aku setrika bagian sambungan sampai betul-betul terbuka, nggak ada bagian yang terlipat. Kalau kain yang dijahit jenis kain sintetis biasanya lebih gampang dibikin rapi kalau disetrika dulu. Tapi kalau kain katun gitu sih, nggak disetrika juga oke-oke aja.

Well, walaupun aku punya mesin obras, tapi aku tetap lebih suka pakai teknik ini kalau untuk jahit pakaianku sendiri. Kenapa? Karena nggak harus mastiin ada warna benang obras yang matching sama warna kainnya atau nggak.  Nggak harus bolak-balik antara mesin jahit – mesin obras. One stop sewing!  Dan lagi teknik ini bikin jahitannya lebih awet (setidaknya di bagian kampuh) plus kelihatan rapi luar dalem. Tehnik ini juga bagus untuk kain yang transparan seperti kain sifon, tile, dan semacamnya. Kalau transparan terus kelihatan obrasannya dari luar kan agak gimanaaa gitu ya.. Cuma kalo kainnya tebel kayak drill, beludru, mendingan jangan pakai teknik ini deh. Ntar jadi terlalu tebel di bagian kampuh, jadi ngganjel kalau dipake. Lagian susah juga njaitnya. Mendingan dijahit dengan kampuh terbuka, terus masing-masing pinggir kainnya di bungkus bias tape/ bisban. Ribet kuadrat sih.. Kalau nggak mau repot ya  memang harus lari ke mesin obras deh, hehe..

Oh ya, pernah dengar istilah kampuh kostum? Itu hasil akhirnya juga sama seperti kampuh balik. Cuma stepnya aja yang beda. Untuk kampuh kostum step awal dijahit dengan sisi baik kain berhadapan, seperti normalnya njahit baju. Nah, habis itu baru pinggir kainnya dilipet ke dalem, terus dijahit tangan pakai blind stich. Itu lho, jahitan tangan yang invisible seperti di sini.

Hmmm.. kedengarannya lebih praktis kampuh balik ya? Ya, saya setuju.

So, enjoy the sew!

Sabtu, 22 April 2017

{tutorial} little trash bin for your sewing machine


Dalam proses menjahit, tentu ada yang namanya acara motong benang. kalau di aku, proses ini sering banget karena aku paling risih sama benang yang nglewer diujung jahitan. Dan hasilnya di sekitar mesin jahitku sering bertebaran potongan-potongan benang, yang mana suka bikin sapu di rumahku jadi penuh gumpalan benang. Belum lagi kalau habis nge-trim kampuh semisal  kayak bagian kerung leher atau kampuh kerah dan aku lagi nggak telaten untuk ngumpulin potongannya di ujung meja jahit. Nggak asik banget dan nggak rapi banget. Someday, aku lihat di facebook ada crafter yang bikin kantong kecil yang bisa dicantolin di dekat mesin jahitnya. Aku udah lupa itu sang crafter bikin untuk wadah apa, tapi itu memberiku ide untuk mengadaptasi konsepnya untuk jadi kantong sampah mini di mesin jahitku. Nggak butuh bahan yang aneh-aneh, dan nggak makan waktu juga bikinnya.
So, here we go
Buat pola lingkaran dengan diameter sesuai selera. Pola lingkaran ini nantinya akan jadi alas/ bawah kantong. Yang aku bikin ini diameternya sekitar 15 cm. Aku bikin langsung di atas kain keras M33, sekalian untuk pengaku kainnya. Habis itu ukur keliling diameter untuk menentukan panjang pola sisi badan kantong. Pola sisi kantongnya juga langsung aku gambar di atas kain keras. Tinggi kantong lagi-lagi tentukan sendiri ya #senyum. Potong kain keras bentuk lingkaran dan persegi panjang ini masing-masing dua lembar. Terus tempel di dua lembar kain. Satu kain untuk interior kantong, satunya lagi untuk eksteriornya. Di sini aku pakai sisa kain katun motif untuk eksteriornya dan kain katun bordir untuk interiornya. Jangan lupa untuk ngasih kampuh jahitan di sekeliling kain keras at least 1 cm. Potong juga kain persegi panjang kecil untuk talinya.

Satukan bagian pinggir masing-masing kain interior dan eksterior  bagian badan kantong. Semat pakai jarum. Jahit di sepanjang pinggir kain kerasnya.

Sekarang jahit tali. Lipat sisi panjang kain jadi dua. Terus lipat sisi-sisinya ke tengah kain. Jahit kedua sisi tepinya.

Pasang tali di bagian atas kanan kiri jahitan kain eksterior. Jahit tindas biar si tali anteng di tempatnya.

Pasang kain eksterior dengan kain interior. Bagian baik kain saling berhadapan. Semat bagian atasnya dengan jarum terus dijahit. Setelah itu balik kain sehingga bagian baik masing-masing kain di luar. Bagian sisi kantong udah selesai. Sisihkan.

Tempelkan kain interior dan eksterior kain alas kantong. Bagian buruk saling berhadapan. Jahit tindas bentuk +. Jahitan ini Cuma sementara biar kedua kain nempel selama dijahit. Jadi stik jahitannya besar-besar aja biar nanti gampang ndedelnya.

Rangkai bagian sisi kantong dengan alasnya. Bagian eksterior di dalam. A little bit tricky ya karena diameternya sempit dan kainnya keras. Jadi tabahlah sodara.

Nah, karena tricky itu tadi, jadi agak sulit kalau dijahit pakai mesin. Jadi kali ini aku ngalah pake jahit tangan. Aku jahit ini dengan teknik jahit tikam jejak seadanya, hehe.. Bagian pinggir kainnya biar nggak mbrodol aku potong pakai gunting kain zigzag.


Selesai! Balik kantong, bagian eksterior keluar. Daaan....
Tadaa...!!


Jadilah trash bin kita sodara-sodara. Mulai detik itu dia mulai bertugas menampung potongan benang plus guntingan pinggiran kain yang tanpa ampun kujejalkan ke dalamnya. 


Oya, selain untuk trash bin, sebetulnya kantong ini juga bisa dipake untuk wadah benang, gunting benang atau pendedel juga. Tapi karena udah ada buanyak laci di mesin jahit jadul tersayangku, jadi kayakny lebih ok untuk wadah sampah aja deh. Sekarang  potongan benang atau potongan kain yang bertebaran di sekitaran mesin jahitku sudah sangat jauh berkurang. Kecuali kalo aku pas kelepasan asal lempar, hehe..
So, enjoy the sew!













Sabtu, 28 Januari 2017

{ tutorial } Cara memasang Benang pada Mesin Obras

Yang barusan punya mesin obras baru terus pusing cara masang benang obras, ayo ngacuung..!
Ya.. tak apa.. Dulu aku waktu punya mesin obras baru juga grogi sama urusan masang benangnya.  Jalurnya betul-betul mengintimidasi seorang pemula. Jadi waktu beli itu aku minta sama yang jual untuk dipasangin benangnya. Pas sampe rumah terus tak pelototin saban hari. Pokoknya sampai hafal sama urutannya. Bahkan saking khawatir seandainya benangnya copot terus aku nggak bisa masang lagi, aku kasih tanda pake spidol permanent lubang-lubang yang harus dilewati benang dengan warna yang berbeda-beda sesuai posisi benang. Lebay ya.. Lha kalo aku nggak tau mau tanya siapa? Wong penjahit yang bisa ngobras di rumahku ya aku ini pionirnya (ceilah..)
Tapi itu dulu. Sekarang, alhamdulillah aku sudah hafal jalurnya. Beberapa temanku ada yang masih bingung sama urutannya. Dulu aku bagi foto-foto ini via whatsapp. Tapi daripada nganggur fotonya di komputerku, mending aku posting aja di blog.
Cara ini untuk memasang benang obras tiga benang. Merk mesin obras yang aku pakai ini Singer. Walau setauku urutan jalurnya sama aja di semua merk mesin obras, tapi coba cek lagi kalo kalian pakai merk yang berbeda. Mungkin akan ada bagian mesin yang penampakannya juga beda.
Kita pasang bagian benang sebelah kanan dulu. Ikuti urutan angkanya ya.
Buka pelat di bagian depan mesin untuk memasukkan benang bagian dalam. Di bagian rumah siput sebelum no. 4 pastikan benang betul-betul terjepit di tengah piringan.
Putar roda di sebelah kanan mesin untuk membuat looper yang ada lubang no. 8 & 9 terlihat.
Ok, sebelah kanan selesai.
Sekarang kita pasang yang benang tengah. Benang tengah ini aku biasa pakai benang jahit karena kalo pakai benang obras nggak kuat nglewati rumah siputnya, jadi putus terus. Tapi di mesinku yang dulu aku pakai benang obras nggak masalah. Jadi coba sesuaikan sama mesin kalian masing-masing.
Kenapa bagian ini nggak aku kasih nomer? Karena jalur ini optional saja. Bisa dilewati bisa nggak. Waktu aku ngambil foto ini, bagian A dan B nggak aku pasang benang. Karena kalo dipasang hasil jahitannya malah jadi jelek. Tapi kondisi mesinku sudah berubah saat ini, jadi sekarang benangnya aku sisipkan di piringan B sebelum masuk  jarum.
Step terakhir benang tengah, yaitu memasukkan benang ke jarum. Pasang dari arah depan pakai pinset seperti yang di gambar di bawah ini (buat yang belum punya dan belum tau, pinset ini bisa dibeli di toko alat jahit)
Yap, tinggal sedikit lagi! Sekarang pasang benang sebelah kiri..
Buka pelat yang disebelah kiri untuk memasang benang bagian dalam.
Setelah melewati rumah siput, pasang jarum yang cukup panjang pada benang obras. Jarum ini harus cukup panjang untuk melewati terowongan kecil di lubang no. 4. Ini cara yang paling cepat  adan nggek menguras emosi buatku daripada memasukkan benangnya begitu saja ke dalam terowongan.
Hupla! Keluarkan jarum dari terowongan berikut benangnya. Masukkan ke lubang no. 5 dengan bantuan pinset.
Putar roda di sebelah kanan mesin untuk membuat looper  yang ada lubang no. 6 &7 keluar.
Yak! Finally, the end of our journey! Keluarkan ketiga benang ke bagian atas. Sisipkan ke bawah sepatu obras. Cara menyisipkannya telusuri bagian kanan sepatu dengan ketiga benang sampai jadi di bawah sepatu semua. Sebetulnya nggak harus tiga-tiganya di bawah sepatu sih.. Tapi ini kebiasaanku dari dulu untuk menghindari benangnya jadi bundet di bawah sepatu. Kalo sudah terlanjur bundet, jimpit aja pakai pinset sampai keluar.
Setelah itu jalankan mesin obras tanpa kain untuk memastikan mesinnya bisa merangkai benang.
Berikut ini beberapa tips seputar menjalankan mesin obras :
  • Selalu putar roda di sebelah kanan mesin searah jarum jam (ke arah belakang, seperti ketika mesin obras dijalankan denagn pedal) misalnya  ketika mengeluarkan looper saat akan memasukkan benang obras. Memutarnya ke arah kebalikan akan membuat setelan di dalam mesin jadi kacau, dan hasil obrasan yang tadinya sudah bagus kemungkinan bakal jadi jelek.
  • Usahakan menginjak pedal saat menjalankan mesin obras dengan kecepatan yang stabil dan terus menerus. Sistem injak-rem-injak-rem itu selain bikin setelan di dalam mesin jadi kacau juga lebih banyak makan listrik (save your money!)
  • Kalau setelah benang terpasang semua dan hasil jahitan jelek (lompat-lompat & nggak stabil) coba cek lagi urutan benangnya. Sudah betulkah? Pastikan juga semua benang sudah terjepit sempurna di antara piringan rumah siput. Cek juga posisi jarumnya. Tutorial cara memasang jarum obras bisa dilihat di sini.
  • Wat? Masih jelek juga? Hmm.. kemungkinan ada sekrup yang belum terpasang kencang di dalam sana. Terutama kalau mesinnya masih baru. Nah, kalo yang ini biasanya aku panggil 911, eh.. tukang servis maksudku #peace.
Demikian tutorial kali ini. Semoga bermanfaat. Dan selamat untuk mesin obras barunya!#smile
Enjoy the sew!

Senin, 25 Juli 2016

{ tutorial } cara memasang jarum mesin obras

Sejak beberapa bulan yang lalu, ada temen yang tanya gimana caranya mengganti jarum mesin obras. Karena bakal belibet kalau di ketik jalan ceritanya di chat whatsapp, jadi aku bilang bakal naruh step by stepnya di blog. Terlalunya aku, baru hari gini dibikinin tutorialnya, ehehe... Afwan mbak Vitri.. semoga belum kadaluarsa ini tutorial.
Nah, keburu mesin obrasnya bakal dipake, jadi ayo kita mulai!
Ini dia biang keroknya, si jarum obras yang entah karena tumpul, patah, atau salah ukuran harus diganti. Cara nggantinya gampang banget. Jadi, nggak perlu keringat dingin ya...

First step, siapin kunci untuk membuka ring yang njepit jarum. Kunci kecil ini biasanya sudah disertakan di tool box waktu beli mesin obras. Kalau belum punya, silahkan beli di toko alat jahit.

Masukkan kunci sesuai lekuk ring. Putar ringnya sesuai arah jarum jam untuk membukanya. Putar sampai ring kendor, tapi jangan sampai lepas dari tiangnya. Pokoknya asal jarumnya udah bisa ditarik kebawah aja. Lepas jarum dari tempatnya.

Ambil jarum yang akan dipasang. Coba perhatikan dua sisi jarum yang ada lubangnya. Salah satu sisi jarum ada lekukannya, sementara sisi satunya lurus. Nah, sisi yang lurus ini harus menghadap ke arah depan ketika dipasang di mesin obras.

Masukkan jarum ke tiang tempat jarum. Dorong ke atas sampai ke pangkal tiang. Setelah itu putar untuk mengencangkan ring penahannya. Kali ini putar dengan arah kebalikan dari arah jarum jam. Pastikan ring terpasang dengan ketat supaya jarum nggak berubah posisinya.

We are done! Gampang kan. Oh ya, setelah jarum terpasang, coba jalankan mesin obrasnya dan cek hasil jahitannya. Kalau hasil jahitannya lompat-lompat, kendorkan lagi ring, tarik sedikit jarumnya, terus ketatkan lagi ringnya. Sedikiiit dulu lho ya nariknya. Hasil jahitan yang lompat-lompat bisa jadi karena benang yang dibawah nggak kesangkut jarumnya, alias ketemunya nggak kompak. Jadi coba naik-turunkan jarumnya sampai ketemu hasil jahitan yang bagus.
Perkara jarum ini selalu jadi masalah sensitif di mesin-mesin jahit (ceilah, sensitif!), hehe.. Maksudnya sensitif, kalau ada salah sedikit aja bisa mempengaruhi hasil jahitan. Jadi pastikan jarumnya nggak kebalik, nggak tumpul, dan sesuai ukurannya dengan kain yang sedang diobras.
Nah, beginilah caranya masang jarum obras. Semoga tutorial ini bermanfaat ya. Happy ngobras, and
Enjoy the sew!

Senin, 01 Februari 2016

U must try this: DIY phone stand

Smartphoneku punya sofa baru nii....


Aku pernah beli phone stand yang dari silicon yang ditempelin di punggung handpone. Tapi setelah perekatnya hilang kesaktian plus ditambah jadi agak mengganggu penampilan handphone, jadi nggak aku pakai lagi. Sejak saat itu jadi agak repot kalo pakai handphone untuk keperluan baca sembari nulis, karna dikit-dikit lepas hape, ambil hape. Repot, tapi bagaimana lagi. Sampai aku ketemu sama ide untuk bikin phone standku sendiri. Proyeknya dapet dari situs keren ini. Langsung jatuh cinta at first sight. Di situ ada video cara buatnya juga. Ditonton, kok gampang. Bahannya juga qodarullah punya semua. Langsung eksekusi deh! Yang di situs itu pakai kain motif. Tadinya mau pakai kain motif juga. Tapi nggak ada wangsit mau pakai kain motif yang mana.Terus liat tutorial yang di video, bahan yang dipakai kain denim. Aha! Ini lebih cucok. Lagi bosen sama yang terlalu feminin nih. Pengen sesuatu yang lebih keren :)

Kalo yang di video tutorial kan pakai celana jeans bekas tu. Ide bagus sebetulnya, tapi lagi nggak ada celana jeans bekas yang bisa dikerjain. Jadinya aku pakai potongan kain denim sisa pesanan. Untuk isinya karena yang aku punya dacron lembaran, jadi dacronnya itu aku sobek-sobek sampai hancur biar bisa jadi isian. Memang udah adatku, kalo beli dacron mesti yang lembaran. Jadi entah itu mau untuk digunakan dalam bentuk lembaran misal selimut atau hancur untuk isian, semuanya bisa :)
Ukuran standku nggak sama seperti yang di tutorial. Karna yang dijadikan ukuran di situ iPad, sementara smartphoneku ukurannya lebih kecil. Jadi harus bikin ukuran sendiri. Namanya lagi trance, jadi bikin ukuran sendiri juga nggak masalah. Untuk sandarannya itu, biar lebih kaku dan solid, di suruh pakai cardboard. Karena nggak ngerti gimana bentuknya cardboard yang seharusnya, jadi aku pakai kardus sepatu yang lebih tebel daripada kardus susu. Ukuran cardboard itu juga ada di situs itu, siap download. Tapi ya itu tadi, karena aku ngarang ukuran sendiri, jadi ukuran cardboardnya juga harus disesuaikan sama stand phone versiku. Caranya, setelah aku isi si stand pakai dacron, aku semat pakai jarum, terus aku ukur bagian yang akan jadi sandaran handphone. Buat polanya, potong, pasang, jadi deh!


Ornamen di belakang standnya aku pakai kancing batok bentuk bintang yang kebetulan tinggal the one and only di koleksi kancingku, hehe.. di situs itu pakai bunga dari kain perca. Tapi lagi males bikin yang repot-repot apalagi aku bikinnya pas pagi-pagi bahkan sebelum bersih-bersih ruang kerjaku, sementara masih ada deadline pesanan juga. Cari praktisnya aja. Lagipula denimnya kayak nggak matching kalo dikasih bebungaan.


Beneran suka sama proyek ini. Gampang tapi lumayan untuk penyegaran di antara pesanan-pesanan gamisku karena melibatkan dacron dan kardus :) Oh, dan denim juga. Sesuatu yang lain!  Cuma satu hal yang agak bikin nyesel. Yaitu kecerobohanku lupa meletakkan jahitannya di bagian bawah. Jatuhnya malah jadi di samping. Gegara buru-buru sih..

Btw, maaf fotonya agak buram. Karena handphone yang kameranya biasa aku pakai sedang bergaya jadi foto model, jadi terpaksa pinjam kamera yang lebih rendah resolusinya ^_^



So, enjoy the sew!

Selasa, 10 November 2015

{tutorial} cara membuat label sendiri

 
Finally... kejadian juga bikin label sendiri! Ini gara-gara mau bikin label baju untuk produk gamisku, Gamishiy, di jasa pembuatan label tapi ternyata maharnya cukup mahal untuk ukuranku yang pelit punya. Di Jogja sini, bikin label yang bagus bisa sampe satu jeti! Haha.. terimakasih! Mendingan tak pake buat beli kain katun motif, dah dapet satu rol. Ada sih yang harga murah.. tapi ya begitulah. Ada harga ada rupa memang. Udah mau nyerah aja bikin label baru dan tetep pakai merk lama sampai aku _qodarullah_ nemu seorang bule baik hati yang ngasih tau how to make your own label (cheap `n easy pula) lewat blognya. Jadi label yang dibuat tehniknya kayak sablon, tapi kita memanfaatkan transfer paper untuk mindahin gambar ke kain. Tadinya kukira transfer paper belum nyampe Indonesia. Ternyata udah euy! Baguuus... Jadi, buat yang pengen bikin sendiri label murah dan mudah, sini saya kasih tau caranya.
Pertama, bahan yang harus disiapkan adalah:
  • Desain label
  • Transfer paper
  • Printer
  • Pita satin (atau pita yang lain pun juga bisa)
  • Setrika
Desain label, itu mutlak harus punya duluan _ya iyalah, kalo ngggak apa coba yang mau ditransfer?_ Untuk desain labelku, karna simple jadi aku bikin sendiri pakai CorelDraw. Kalo yang belum punya barangkali bisa minta jasa desain grafis kali ya. Atau coba bikin sendiri pakai merk yang ditulis pakai font lucu juga nggak apa-apa. Cetak desain ke kertas biasa sebelum diprint di transfer paper untuk nge-cek gambar dan ukuran sudah sesuai harapan atau belum.
Transfer paper biasanya ada di toko alat tulis. Karna aku nggak telaten kalo harus blusukan ke toko-toko, jadi aku searching dulu sebelum meluncur. Alhamdulillah di Jogja sini ada yang jual di toko alat tulis di daerah Demangan. Nama tokonya lupa. Pokoknya dari Toko Merah masih ke utara. Atau barangkali di Toko Merah juga ada. Transfer paper yang aku pakai merk Blue Print. Harganya per pack Rp. 35.000 isi 5 lembar.
Printer, sebaiknya pastikan dulu tintanya cukup penuh. Karna untuk proses printnya disarankan disetting photo quality dan kualitas cetak tinggi.
Ukuran pita satin disesuaikan dengan ukuran desain label. Atau untuk kasusku, desain disesuaikan dengan ukuran label, hehe.. Pastikan pita satinnya tahan panas ya.
Setrika, pokonya setrika biasa. Dan bukan setrika uap _begitu yang tertulis di instruksinya_
Ayo kita mulai!
Print desain label ke transfer paper. Seperti yang aku bilang tadi, disarankan pakai settingan photo quality plus best print quality untuk hasil optimal. Daaaan _ catat ini!_ jangan lupa untuk mengaktifkan mirror image option alias gambarnya dibalik. Biar nanti kalo di transfer ke pita gambarnya nggak njungkir. Jangan lupa lho ya!

Bagus juga kalo sebelumnya sudah dibuat tanda sudut dan garis untuk memudahkan motong-motong kertas jadi seukuran pita dan melipat pita sebelum dijahit.

Panaskan setrika sampai panas maksimum. Terus, letakkan kertas yang udah dipotong-potong di atas pita lalu disetrika. Jangan sampai kertasnya tergeser waktu nyetrika biar gambarnya rapi. tekan-tekan setrikanya kira-kira selama 1-2 menit. Tips dariku, baik juga kalo di antara kertas dan setrika dilapis kain putih tipis untuk jaga-jaga biar nggak gosong. 
Tunggu sampai dingin, terus lepas kertas dari pita. Voila! Label pun siap dihidangkan, eh.. dipasang! Easy and cheap, huh? (harga printer dan setrika nggak diitung ^,^)

Update : 

  • Biar lebih praktis waktu menyetrika, tempel dulu beberapa label berjajar sekaligus (sekitar 3-4. Tergantung ukuran label) dengan cara disetrika sebentar, cuma sekedar nempel aja. Setelah semua ditempel baru disetrika yang tahap lama bersama-sama. 
  • Setelah disetrika transfer paper bisa langsung dilepas selagi hangat (kayak kue aja,hehe). Jadi ada dua opsi, dilepas selagi hangat atau ketika sudah dingin. Bedanya kalo dilepas sesudah dingin akan ada efek lebih glossy daripada kalo dilepas pas masih hangat.
  • Untuk penggunaan label yang dilipat samping-sampingnya seperti punyaku ini dan pakai pita satin, bakar sedikit bagian samping-samping pita supaya nggak terburai.
  • Bagaimanapun, kalau digunakan untuk produk yang sering disetrika seperti pakaian, mau nggak mau sebaiknya tetap pakai label baju yang bordir atau sablon. Karena label ini nggak tahan disetrika panas. Lapisan transfer papernya bisa rusak.

So, enjoy the label making
:)

Selasa, 24 Maret 2015

tutorial: mengatasi lengkungan lengan setali

Yak! Ini dia tutorial yang aku janjikan di postingan dress batik sebelumnya...
Aku kan dah cerita sebelumnya, kalo dulu-dulu aku suka senewen sama lengkungan lengan setali. Lengan setali memang praktis dari segi bikin pola dan njahitnya karena kerung lengannya jadi satu sama badan. Kalo untuk proyek jahit baju cepat, menurutku jurus lengan setali ini very recomended!
Baiklah, tanpa buang tempo lagi (aku dah keburu ngantuk!) ayo kita bahas step by step ngatasi si lengkungan ini.

Siapkan potongan kain dari kain baju selebar 4cm x panjang lengkungan lengan. Jadi panjang pita ini harus bisa meng-cover seluruh lengkungan ya. Oh ya, jangan lupa, pita ini harus dibuat dari kain yang dipotong dari serat  kain yang serong (diagonal) supaya lentur. Lipat kain jadi dua bagian sambil ditekan sampai terbentuk lipatan (bisa dengan bantuan setrika), lalu lipat bagian tepi-tepi kain ke arah garis lipatan di tengah. 

Gunting-gunting bagian kampuh jahitan pada bagian lengkungan. Mengguntingnya jangan sampai kena jahitan ya. Paling tidak sisakan sekitar 0,3cm dari jahitan.

Buka lengkungan sampai jadi lurus. Pasang pita yang sudah disiapkan sebelumnya menutupi kampuh. Pita ini menjaga supaya lengkungan tetap lurus sekaligus melindungi kampuh yang sudah digunting-gunting.

Semat sepanjang pita dengan jarum. Untuk proses ini, bagian depan dan belakang pita akan dijahit bersama sekaligus. Jadi pastikan bagian depan dan belakang pita tersemat jarum.

Jahit sepanjang tepi pita dengan mesin. Nantinya kampuh bagian lengkungan ini akan bergelombang. Nggak masalah, karena inilah yang akan meyelamatkan lengan setali kita dari pernjlekitutan!

Dan.. beginilah hasilnya. Mulus bebas kerutan! Lengan setali siap difinishing.
Enjoy the sew!
:)