Tampilkan postingan dengan label dress. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dress. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Agustus 2015

Complete: Yoke Dress Lengan Tulip


Hola.. ceritanya hatiku sedang berbunga-bunga karna aku punya baju baru yang juga berbunga-bunga,hehe.. Nggladrah dulu. Selama sekitar beberapa bulan ini sibuk nyelesaikan pesanan Gamishiy, menyembuhkan flu berat, mberesin studio jahitku, and bla bla bla. Padahal rasanya dah gemes banget pengen nggarap kain flowerprint ini. Kain ini belinya dah sejak sebulanan yang lalu kalo nggak salah. Biasa aku kalo beli kain mesti nggak langsung kegarap. Mesti nunggu wangsit dulu ini kain mau dibikin apa, kalo jadi baju mau jadi model yang gimana, nanti udah gitu enaknya untuk siapa, haha.. biasanya kalo bukan pesenan, ya mesti jatuh ke tangan sendiri, hoho.. :)


Jadi ini dress menyadap salah satu  model yang ada di buku sewing recipe. Aku udah lama pengin buku sewing recipenya Yoshiko Tsukiori . Buku jepang memang. Pernah lihat di Gramedia, tapi seperti biasanya, balik buku, lihat angka dibawah barcode, disebelah tulisan Rp, and suddenly heartbreak T_T. Agak terlalu mahal buatku. Padahal didalemnya itulah ada model dress yang aku suka sekali. Simple but chic khas japan fashion punya _Belakangan aku lihat di Amazon.com kalo harga aslinya sekitar 150ribu rupiah. Karna ada temen yang lagi di jepang, nitip aja sama dia. Siapa tau ada yang second, jadi lebih ngirit kan :D_ .


Model dress ini pake yoke alias potongan di bawah dada. Ada kerutan di dua sisinya. Yang di buku aslinya modelnya cuma sampai segitu aja (dan tetep aja nggak kekurangan efek hipnotis buatku). Tapi yang punyaku ini aku tambahkan renda rajut. Bagian belakangnya (lupa difoto ^_^) juga aku kasih potongan dan renda. Tapi yang bagian badan atas belakangnya kali ini aku beri closure pake kancing hem setelah dress batik oranyeku kemaren yang nggak aku kasih bukaan sukses bikin aku kecetit waktu pertama kali pake ^_^. Badan bawahnya, depan dan belakang, aku beri sedikit pias biar bentuknya nggak terlalu monoton dan nambahin efek A line-nya.


Untuk lengannya, lagi-lagi, aslinya sleeveless. Tapi aku nggak biasa nggak pakai lengan. Dan karna aku lagi kangen bikin pola lengan tulip, jadilah kubuat lengan itu. Ada cerita lagi disini. Si lengan tulip ini maunya ku buat agak pias di bagian sampingnya. Jadi biar ada efek draperinya gitu. Tapi malah jadinya mekar semekar-mekarnya. Draperi dimana-mana -_-` Padahal bayanganku tulip yang menguncup rapi di tengah tapi  bergelombang di sisi-sisinya T_T . Betul-betul bikin patah hati. Kata ibuku sih nggak papa, bagus aja. Tapi aku tetep nggak bisa menerima kenyataan harapanku dihancurkan pola buatanku sendiri. Akhirnya kuputuskan untuk membongkar si lengan. Aku cari sebabnya kenapa tulipku jadi mekar sebelum waktunya gini. Dan ketemulah aku sama situsnya sew many seams. Disana dijelaskan tentang membuat lengan tulip. Lalu tahulah aku kalo salahku adalah pola lenganku nggak di lapping alias di ciutkan sisi-sisinya. Lah wong dulu kursus nggak diajari step itu kok ya. Baiklah, jadi aku buat lagi polanya. Kali ini aku lap. Karna aku dah nggak punya kain sisa lagi, jadi kain lengan yang sudah terpotong itu yang aku kanibal. Dan karna sudah potongan itu tadi jadi harus disesuaikan supaya pola baruku muat. Ada bagian pola yang nggak kebagian tempat, tapi tak apalah.. efeknya Cuma ujung lengan tulipnya jadi nggak terlalu kedepan. Tapi tetep aja pias yang tadinya mau aku hilangkan jadi harus tetep ada. Tapi setidaknya bagian tengah lengan nggak terlalu bergelombang. Dan lagi -lagi aku lupa ngambil foto before recovery!
Aku masih belum puas sama lengan tulip satu ini. Aku berencana bikin lengan tulip yang bisa fit,  ngepas di lengan. Proyek selanjutnya adalah bikin dress ibuku dan mau aku kasih lengan tulip juga. Semoga bisa jadi lengan tulip yang menguncup indah. Nanti kalo udah betul beneran insyaAllah aku bagi tutorial polanya. Kalo yang keburu nggak sabar monggo ke situsnya sew many seams tadi. Disana step by stepnya jelas kok. Ok?
Enjoy the sew!
:)

Selasa, 24 Maret 2015

tutorial: mengatasi lengkungan lengan setali

Yak! Ini dia tutorial yang aku janjikan di postingan dress batik sebelumnya...
Aku kan dah cerita sebelumnya, kalo dulu-dulu aku suka senewen sama lengkungan lengan setali. Lengan setali memang praktis dari segi bikin pola dan njahitnya karena kerung lengannya jadi satu sama badan. Kalo untuk proyek jahit baju cepat, menurutku jurus lengan setali ini very recomended!
Baiklah, tanpa buang tempo lagi (aku dah keburu ngantuk!) ayo kita bahas step by step ngatasi si lengkungan ini.

Siapkan potongan kain dari kain baju selebar 4cm x panjang lengkungan lengan. Jadi panjang pita ini harus bisa meng-cover seluruh lengkungan ya. Oh ya, jangan lupa, pita ini harus dibuat dari kain yang dipotong dari serat  kain yang serong (diagonal) supaya lentur. Lipat kain jadi dua bagian sambil ditekan sampai terbentuk lipatan (bisa dengan bantuan setrika), lalu lipat bagian tepi-tepi kain ke arah garis lipatan di tengah. 

Gunting-gunting bagian kampuh jahitan pada bagian lengkungan. Mengguntingnya jangan sampai kena jahitan ya. Paling tidak sisakan sekitar 0,3cm dari jahitan.

Buka lengkungan sampai jadi lurus. Pasang pita yang sudah disiapkan sebelumnya menutupi kampuh. Pita ini menjaga supaya lengkungan tetap lurus sekaligus melindungi kampuh yang sudah digunting-gunting.

Semat sepanjang pita dengan jarum. Untuk proses ini, bagian depan dan belakang pita akan dijahit bersama sekaligus. Jadi pastikan bagian depan dan belakang pita tersemat jarum.

Jahit sepanjang tepi pita dengan mesin. Nantinya kampuh bagian lengkungan ini akan bergelombang. Nggak masalah, karena inilah yang akan meyelamatkan lengan setali kita dari pernjlekitutan!

Dan.. beginilah hasilnya. Mulus bebas kerutan! Lengan setali siap difinishing.
Enjoy the sew!
:)

complete: dress batik with lace

Beberapa waktu lalu, ibuku sempat bisnis batik lembaran sama teman lamanya . Jadilah ibuku kulakan batik warna warni. Dari yang cap sampe yang semi tulis. Secara karena dulu aku sering banget menangani kain batik, jadi lihat tumpukan batik itu nggak bikin aku nggumun lagi. Tapi diantara batik-batik itu, ada 2 kain yang mencuri perhatianku. Warnanya oranye sama merah cabe! Itu salah satu warna favoritku! Aku bilang sama ibu, kalo yang ini nggak laku, ntar aku beli ya.. (hehe,, anak brandal). Walaupun lihat warnanya yang eye catching itu, aku rada pesimis kain ini bakal balik. Eh, ternyata balik! Cuma satu aja sih, yang oranye. No problem! Apalagi kain ini, kata ibu, nggak boleh dibeli sama aku, bolehnya diambil aja nggak pake bayar (Alhamdulillah... :D)
Kalau ngobrol soal batik, aku lebih suka batik yang motifnya antara klasik dan modern. Jadi yang sejenis batik gaul atau batik fraktal yang lagi tren itu aku ngak terlalu suka. Pun yang klasik banget kayak kawung atau parang yang biasa dipakai abdi dalem keraton itu, walaupun menurutku keren, tapi nggak banget kalo aku yang pakai. Jadi, buatku kain ini agak memenuhi kriteriaku (padahal  jauh banget dari kesan klasik dan malah rada gaul ya). Tak apalah. Aku udah kadung love at first sight sama oranye nickelodeonnya. Dan lagi kainnya katun mori yang adem itu. Sukaa...
Lalu, soal modelnya. Sejak dulu aku suka sama selera busana orang jepang. Kesannya tu casual tapi tetep keren dan anggun. Aku nemu model dress ini di katalog produk jepang Iedit. Suka sekali sama aksen renda di bahunya. Berhubung bahuku nggak masuk kategori lebar, jadi model ini cukup aman untuk kukenakan. Dan lagi, aku jadi punya alasan untuk pergi belanja renda! (penyakitku belakangan ini: gila renda). Apalagi renda rajut.  Ceritanya lagi mujur ketemu sama renda ini, karena beberapa hari kemudian pas mau beli untuk titipan Tanteku, si renda udah raib. Kasian si Tante... Renda rajut lagi tren, makanya cepet sold out. Karena memang kesannya yang chic vintage itu bikin apapun yang ditempeli olehnya jadi cantik. Shabby sekali :)
Dress ini kubuat dengan potongan leher yang lebar a la kerah perahu. Boat neck istilah britishnya.  Sekitar selebar 2,5cm dari pinggirnya kubuat berpotongan, sama seperti pinggiran lengannya.
Dress ini kubuat sepanjang bawah lutut. Agak panjang biar nggak perlu pakai celana lagi untuk bawahannya. Jogja agak panas belakangan ini. Pakaian rumah yang sirkulasi udaranya lancar sedang jadi favorit :)
Oh ya, aksen favoritku juga empat kupnat yang cuma dijahit 6cm diatas dan dibawah garis pinggang. Kupnatnya ini bukan yang bentuk ujungnya meruncing, tapi cuma garis sejajar selebar 2,5cm. Jadi di setiap ujungnya akan ada aksen lipit. Aku baru nyadar, buat yang bertubuh mungil , model ini bisa jadi penyelamat karna nambah volume tubuh ^^
Belakangan ini aku sering sekali bikin lengan setali untuk tema baju kasual. Yep! Aku suka pola lengan ini karna selain bikin polanya ringkas (pola lengan yang langsung nempel di badan. Makanya dinamai setali), njahitnya juga otomatis lebih cepat karna nggak ada acara njahit kerung lengan. Cuma yang dulu-dulu bikin aku senewen, adalah bentuk melengkung di bagian ketiak baju.  Karena bentuknya yang melengkung kedalam itu, bagian kampuh didalamnya akan bikin bagian itu jadi njlekitut ga karuan (tau njlekitut? Itu bahasa Jawa. Susah njelasinnya, jadi lihat gambar dibawah aja ya. Piiiss! :). Biasanya aku akali dengan mengecilkan kampuhnya jadi selebar 0,5cm. Cukup membantu walau wasih ada sedikit kerutan. Tapi bagaimanapun itu melanggar kode etik jahitku bahwa kampuh setidaknya harus 1,5cm. Itu, yang membuat aib dibalik kepraktisan lengan setali.
Tapi, kali ini aku berhasil menemukan cara supaya pernjlekitutan ini tidak terjadi. Seperti gambar dibawah ini..
Tadaaa...
Mungkin ada yang bertanya, bagaimana bisa? _halah!_ tentu saja aku dengan senang hati akan mambagi trik sederhana ini kalau ada yang mau _nggak ada juga nggak apa-apa :`(_ Tapi Insya Allah akan kutulis di postingan berikutnya. Tadinya mau sekalian disini. Tapi takut nanti jadi kepanjangan, malah susah loading gambarnya ntar kalo dibuka.
Jadi,sampai ketemu di postingan berikutnya ya :D
Enjoy the sew!

Senin, 15 Desember 2014

{Little blouse} Lengan Setali

Daaan... setelah dibuat jadi dress plus dogie dollnya, si kain pink kotak-kotak ini ternyata masih sisa juga, hehe.. (kok nggak habis-habis sih, ni kain?) Cuma rada bosen juga kalo dibuat utuh dari kain ini, jadi kali ini aku buat blus yang dikombinasi sama kain blacu soft polos.  
Potongan baju ini simple aja. Cuma blus dengan kancing depan. Tapi aku sukaaa banget sama aksen yoke alias potongan di bagian depan dada itu. Plus, pola lengan setalinya sukses membantu proyek sehari jadi ini karena nggak perlu ada acara bikin pola lengan dan pasang lengan yang cukup makan waktu.
Potongan bawah blus atau bagian yang menggunakan kain blacu kubuat potongannya semi klok untuk kesan bergelombangnya. Dan lagi, karena ini baju anak-anak, potongan longgar ini bikin ketagihan si pemakai. Tambahan lagi bahan soft blacunya pakai yang adeem banget. Sifat katun blacunya juga betul-betul memanjakan yang njahit baju. And the important one is.. harga si blacu ini murah banget! (di Jogja permeternya 15 ribu rupiah aja di toko khusus blacu di daerah Plengkung Gading). Cuma soft blacu itu agak transparan kalo untuk dibuat baju. Tapi karena ini baju anak-anak, ga begitu jadi masalah.


Warna kontras perpaduan antara kain kotak-kotak pink dan krem blacuny bikin blus simple ini `ga keliatan sepi-sepi amat. Dan lagi ada tambahan bantuan dari kancing kayu lukis senada seirama sama warna kain yang ikutan menyemarakkan tampilan si blus.
Yang menyenangkan dari bikin blus ini adalah proses bikinnya yang singkat banget . “Cuma” 6 jam include bikin polanya di kertas sampai finish ☺. Aku bilang cuma, karena seharusnya blus ini bisa dibuat dalam waktu yang lebih singkat lagi. Hanya karena aku termasuk tipe peenjahit slow motion, jadi butuh waktu setengah hari untuk bikin blus nan simply ini.
And you know what? Kain pinknya masih ada sisa! Plus kain blacunya juga. Akhirnya aku buat sekalian blus kembarannya untuk si kakak. Twin blus jadinya! Hyippiie...!


Ternyata setelah dibuat dua blus pun, kain kotak-kotak pink ini masih ada sisa yang cukup banyak...
Betul-betul deh, `ni kain `ga ada matinya! ^^


Kamis, 30 Oktober 2014

[Trial and Error] Cape Sleeve

Very loooong time sejak posting hasill proyek terakhir sewdio, akhirnya sempat berbloging lagi setelah selesai mengurusi acara nikahan kakak semata wayang, berbenah rumah, mudik, and nyesuaikan jadwal lagi pasca liburan panjang. Tambahan terbantu sama smartphone yang lagi soak (lho?) jadi bisa lebih fokus buat nyelesaikan proyek-proyek yang tertunda J. Termasuk nggarap dress, order dari pelanggan yang udah sewot (adik paling buntut) yang minta kain katun floral print-nya di jadiin dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.  Ok, here we go!
Jadi ceritanya untuk si dress ini aku pakai kain katun motif bunga, yang tadinya punya si kakak. Gara-gara dilirik terus sama si adek, akhirnya dihibahin deh. Kebetulan juga kainnya pas cuma dapet sisa 1 meter dari toko kainnya. Alamat maksa banget kalo mau dibuat baju orang dewasa.


Aku lagi pengen nyoba pola dr gaya klasik. Udah lama banget ngebet pengen nyobain lengan Kap (cap sleeve) waktu lihat di buku mode blat kuno di tempat kursus pertamaku yang juga kuno, hehe.. Asli, asik banget liat pola-pola jadul. Tapi bukan model jadul tahun 70an yang norak punya itu. Ini yang stylenya Eropa classic untuk little lady, sukaaa banget. Sayangnya waktu itu kosakata polaku masih kerempeng banget. Boro boro tau polanya, wong namanya aja nggak mudeng. 1 tahun kemudian baru tau kalo polanya `n cara masangnya ternyata gampang banget! Hoho.. :D


Tapi, ntar..ntar.. ternyata si lengan kap ini bikin aku ketemu musuh bebuyutanku. Itu adalah...

Eng.. ing.. eng....


Lapisan! Tapi yang lapisan yang model lengan sama lapisan lehernya nyambung jadi satu kayak gini. Sebetulnya ada sih, pola yang nggak bikin aku harus berurusan sama lapisan jenis ini _jangan tanya gimana polanya karna udah kadung tak bikin kayak gini_
Intinya (kalo caraku) lapisan yg bagian leher dijahit trus dijahit tindas dulu seperti biasa. Baru setelah itu satu persatu lapisan yang di kerung lengan dijahit mulai dari bagian ketiak kearah bahu, terus mulai lagi dari ketiak ke bahu. Jadi misalnya, jahit dari ketiak ke arah kerung lengan depan smpai bahu, lalu berhenti. Terus baru mulai lagi dari ketiak yang tadi ke arah kerung lengan belakang ke bahu sampai ketemu jahitan yang sebelumnya (Bingung? Nggak papa, aku juga)
Nggak tau ini caranya betul atau nggak, karna dulu pas kursus belum sempat nyoba under control sang suhu. Sebelumnya pernah nyoba untuk baju orang dewasa. Karena notabene bidang yang dikerjakan lebih luas, dan bahannya kebetulan juga lentur, jadinya lebih gampang jahit dengan cara seperti diatas. Cuma gara –gara kali ini diaplikasikan ke baju anak-anak jadinya lebih berabe jahitnya. Terutama karna lebar bahu yang sempit, jadi pas jahit lapisan yang dekat bahu itu nyaris bikin nangis. Belum lagi pas jahit tindasnya, oh no! Tapi intinya secara keseluruhan jahitnya seru kok. jadi nggak kapok kalo harus bikin lagi. Lagian aku sangsi, ini cara jahit yang sahih apa nggak. Jadi kalo ada yang bisa kasih tau cara jahit lapisan model ini dengan benar, please share with me!:)


Closure_nya aku buat di punggung belakang pakai kancing hem.(belakangan, keputusan ini diprotes sama si empunya baju yang kerepotan tiap mau pake dress ini :P) 


Rabu, 01 Januari 2014

Little dress 4 little sister

Sesuatu yang aku suka dari punya saudara perempuan, mereka sukaaa sekali dandan. Walaupun itu kadang juga jadi menyebalkan terutama kalo janjian mau pergi bareng. Aku udah siap di atas motor, si sister masih sibuk nyari jilbab yang matcing. Tapi karna kami jarang pergi pergi, insiden semacam itu jarang kejadiannya. Seringnya aku bersyukur sekali punya sodara perempuan karna mereka bisa jadi manekin hidup untuk baju2 buatanku ^^
Dress pink ini special made buat sodara tercentil n terkecilku. Senengnya, dia punya selera baju yang sama kayak aku. Classic! Kami suka banget gaya gadis desa inggris kuno, yang pake potongan n kerut di pinggang. Diberi renda-renda & lengan nggembung. Oh, aku nggak begitu suka lengan gembung, jadi yang dikerut cuma kepala lengannya aja..