Sabtu, 28 Januari 2017

{ refashion } Little Frock Dress

Hai! Lama tak bersua di blog ini. Belakangan ini tenggelam dalam orderan gamis-gamis polosku. Ya, sekarang ini aku sering bikin gamis basic warna hitam. Bukan little black dress jadinya, but the big black dress, hehe.. karena gamis yang aku buat memang cuttingnya dibuat longgar jadi nyaman `n so pasti lebih syar`i.. Heeiiit... kenapa malah jadi promosi? Hehe.. maafkan.. Nggak bermaksud mengarahkan kalian ke blog Gamishiyku (halah! Promo lagi!). Haha.. Ok, ok.. Aku berhenti sekarang.
Jadiii.. sebetulnya aku mau cerita tentang proyek refashionku akhir bulan Ramadhan tahun kemari (dah lama ya? Biarin!). Baru sempet ketulis sekarang karena aslinya aku lupa sama proyek satu ini. inget lagi pas ngudal-ngudal album foto. Karna bikinnya seru, jadi aku nggak tahan untuk nggak nulis ceritanya. Ini tentang frock dress untuk keponakan kecilku yang waktu itu umurnya sekitar setahun. Frock ini dibuat dari kain yang udah jadi dress remaja yang entah punya siapa (lha?). so, beginilah awal mulanya..
So, this is it! Dress ini aku nemu waktu beres-beres lemari bajuku. Kata kakakku baju ini dulu pernah dipake sebentar sama dia. Tapi karna nggak ada lengannya jadi nggak diterusin pakenya. Jadi bisa dibilang baju ini 99,99% baru (apa? Pusing sama warna  pita pinggangnya? Ya, aku juga.)
Baju ini entah dibuat di jaman siapa, tapi yang jelas kondisi kainnya masih bagus banget. Cuma ada bagian sobek sedikit di bagian roknya. Tapi secara keseluruhan kainnya masih sangat pantas pakai. Dan motifnya, aku sukaa sekali. Rada semrawut tapi cantik. Tapi bagaimanapun ini dah nggak update banget kalo aku pake sekarang. So, it`s time to refashiooon..

Kebetulan pas akhir Ramadhan itu kakakku baru inget belum punya baju baru untuk babynya. Tapi tentu saja dia nggak lupa kalo adiknya (aku) adalah seorang penjahit yang entah bagaimana selalu terpaksa sudi digencet kerjaan yang mepet dateline. Waktu aku berkilah nggak punya kain, doski jenius sekali dengan mengingatkanku akan dress tak bertuan ini. Baiklah...
First step, tentu saja bikin pola karna ini baju pertama keponakanku yang aku bikin. Untuk modelnya si simbok minta dibuat model frock dress. Tau kan? Dress yang dipotong di pinggang terus dikerut di bagian roknya itu lho.. Itu model aman untuk anak kecil. Karena modelnya pasti imut, dan yang lebih penting lagi, sangat simple bikin polanya! Aku Cuma harus bikin pola bagian atas badan sama lengan. Sementara roknya Cuma dibuat persegi panjang dengan ukuran panjang kira-kira 2-3 kali lingkar pinggang blus. Aku potong bagian rok dress remaja itu dari bagian atasnya, terus aku potong bagian jahitan sampingnya. Jadi sekarang bentuknya kayak lembaran kain biasa. Kain siap dieksekusi. Nah, di awal tadi aku rada moody mulainya. Tapi sampai step ini aku mulai kerasukan. Seperti biasa.. trance!
Ada yang rada ribet di kain ini, tapi bagaimanapun menyenangkan. Karena kain ini motifnya agak berpola, jadi harus dicari bagian motif yang bisa dijadikan semacam centerpiece untuk bagian badan atas depan belakang. Apalagi  motif kain ini besar-besar dan ukuran baju yang dibuat kecil. Jadi hal semacam itu harus diperhatikan.
Next step, assembling. Pertama-tama aku jahit bagian badan atas depan dan belakang sama rok kerutnya. Baru setelah itu jahit bahu, dan kemudian sisi samping baju.
Oh ya, bagian belakang bajunya... oke, ini kebiasaan burukku. Aku lupa bikin bukaan bajunya! Baru inget setelah kakakku nyeletuk, “bukaannya dibikin rada panjang ya. Biar gampang masuknya.” Jreng! Berasa nginjek bantalan jarum kebalik. Asli lupa! Nggak lupa-lupa amat sebetulnya. Tadinya aku berencana bikin bukaanya tu Cuma belahan sedikit di atas leher belakang. Kebiasaaan kalau bikin bajuku sendiri kayak gitu. Tapi ini kan baju anak-anak. Proporsi kepala sama badan mereka nggak jauh beda diameternya. Nggak kayak orang dewasa. Jadi jelas harus dibuat lebih panjang bukaanya. Hedeh.. motong kain lagi deh.. aku udah mau motong kain belakang itu asal aja waktu kakakku nyeletuk lagi, “pas sambungan bukaannya nggak usah diketemuin motifnya ya. Ntar kelamaan.” Demi mendengar itu kepalaku berasa berpendar. Betul juga! Ditemuin motifnya! Kalo nggak, kan motifnya bakal tumpang tindih nggak karuan. Hari itu kakakku diilhami untuk mengucap celetukan-celetukan bermanfaat rupanya.  “ wah.. trims ya. kalo kamu nggak bilang, udah aku potong asal aja ini” kataku sambil nyabutin jarum yang udah nempelin pola ke kain. Kakakku  dengan gemes memandangin aku yang heboh nggeser-nggeser pola biar dua sisi kain belakang ini bisa ketemu motifnya kalo dikancingkan. Haha..
Habis itu tinggal pasang lengan, pasang bias tape leher dan lengan, finishing, dan selesailah. Sebetulnya aku agak illfeel sama lengannya. Polanya nggak begitu bagus aku bikin. Jadi bentuknya rada aneh kalo dipake. Nggak usah dipake aja udah keliatan aneh ding. Liat kan?
Tapi aku udah nggek sempat mbetulin lagi. Besok atau lusanya _aku lupa_ udah hari raya. Mana aku belum siap-siap nyiapin tetek bengek untuk lebaran. Tau kan.. bikin nastar dan semacamnya.. itu juga agak sulit untuk dilewatkan. Detik-detik menjelang lebaran itu selalu sibuk. Tapi asli seru!
Aduh.. jadi kangen Ramadhan..
Ok, bajunya siap, kue kering siap. Rumah juga udah beres. Kubayangkan lebaran kali itu aku bakal menggandeng keponakan kecilku masuk lapangan tempat sholat dengan dress barunya yang kubuat dengan penuh kasih sayang dan berdarah-darah. Di pagi hari H, kami udah cakep siap berangkat sholat Ied. Kecuali satu orang. Siapa? Si nona kecil pemilik dress itu !!! Boro-boro bangun, gelisah dikit denger suara takbir dimana-mana aja nggak! Pules banget.. Heh.. ya udah deh. Batal sudah hari itu refashion showku.. Tapi bagaimanapun dia adalah keponakanku yang terimut ( iyalah, lha wong memang keponakan baru satu ini ). Nggak tega buat kelamaan mutungnya, hehe.. Pas pulang sholat si nona kriwul ini sudah kinclong dan segar. Demi menghibur hati bibinya, sama simboknya dipakeinlah dress nahas itu. Oke.. tak apa. Kumaafkan kau nak.. Besok lagi jangan kayak gitu ya..


Habis itu, lanjut ke step favoritku... makan nastar!!!

Senin, 25 Juli 2016

{ tutorial } cara memasang jarum mesin obras

Sejak beberapa bulan yang lalu, ada temen yang tanya gimana caranya mengganti jarum mesin obras. Karena bakal belibet kalau di ketik jalan ceritanya di chat whatsapp, jadi aku bilang bakal naruh step by stepnya di blog. Terlalunya aku, baru hari gini dibikinin tutorialnya, ehehe... Afwan mbak Vitri.. semoga belum kadaluarsa ini tutorial.
Nah, keburu mesin obrasnya bakal dipake, jadi ayo kita mulai!
Ini dia biang keroknya, si jarum obras yang entah karena tumpul, patah, atau salah ukuran harus diganti. Cara nggantinya gampang banget. Jadi, nggak perlu keringat dingin ya...

First step, siapin kunci untuk membuka ring yang njepit jarum. Kunci kecil ini biasanya sudah disertakan di tool box waktu beli mesin obras. Kalau belum punya, silahkan beli di toko alat jahit.

Masukkan kunci sesuai lekuk ring. Putar ringnya sesuai arah jarum jam untuk membukanya. Putar sampai ring kendor, tapi jangan sampai lepas dari tiangnya. Pokoknya asal jarumnya udah bisa ditarik kebawah aja. Lepas jarum dari tempatnya.

Ambil jarum yang akan dipasang. Coba perhatikan dua sisi jarum yang ada lubangnya. Salah satu sisi jarum ada lekukannya, sementara sisi satunya lurus. Nah, sisi yang lurus ini harus menghadap ke arah depan ketika dipasang di mesin obras.

Masukkan jarum ke tiang tempat jarum. Dorong ke atas sampai ke pangkal tiang. Setelah itu putar untuk mengencangkan ring penahannya. Kali ini putar dengan arah kebalikan dari arah jarum jam. Pastikan ring terpasang dengan ketat supaya jarum nggak berubah posisinya.

We are done! Gampang kan. Oh ya, setelah jarum terpasang, coba jalankan mesin obrasnya dan cek hasil jahitannya. Kalau hasil jahitannya lompat-lompat, kendorkan lagi ring, tarik sedikit jarumnya, terus ketatkan lagi ringnya. Sedikiiit dulu lho ya nariknya. Hasil jahitan yang lompat-lompat bisa jadi karena benang yang dibawah nggak kesangkut jarumnya, alias ketemunya nggak kompak. Jadi coba naik-turunkan jarumnya sampai ketemu hasil jahitan yang bagus.
Perkara jarum ini selalu jadi masalah sensitif di mesin-mesin jahit (ceilah, sensitif!), hehe.. Maksudnya sensitif, kalau ada salah sedikit aja bisa mempengaruhi hasil jahitan. Jadi pastikan jarumnya nggak kebalik, nggak tumpul, dan sesuai ukurannya dengan kain yang sedang diobras.
Nah, beginilah caranya masang jarum obras. Semoga tutorial ini bermanfaat ya. Happy ngobras, and
Enjoy the sew!

Senin, 01 Februari 2016

U must try this: DIY phone stand

Smartphoneku punya sofa baru nii....


Aku pernah beli phone stand yang dari silicon yang ditempelin di punggung handpone. Tapi setelah perekatnya hilang kesaktian plus ditambah jadi agak mengganggu penampilan handphone, jadi nggak aku pakai lagi. Sejak saat itu jadi agak repot kalo pakai handphone untuk keperluan baca sembari nulis, karna dikit-dikit lepas hape, ambil hape. Repot, tapi bagaimana lagi. Sampai aku ketemu sama ide untuk bikin phone standku sendiri. Proyeknya dapet dari situs keren ini. Langsung jatuh cinta at first sight. Di situ ada video cara buatnya juga. Ditonton, kok gampang. Bahannya juga qodarullah punya semua. Langsung eksekusi deh! Yang di situs itu pakai kain motif. Tadinya mau pakai kain motif juga. Tapi nggak ada wangsit mau pakai kain motif yang mana.Terus liat tutorial yang di video, bahan yang dipakai kain denim. Aha! Ini lebih cucok. Lagi bosen sama yang terlalu feminin nih. Pengen sesuatu yang lebih keren :)

Kalo yang di video tutorial kan pakai celana jeans bekas tu. Ide bagus sebetulnya, tapi lagi nggak ada celana jeans bekas yang bisa dikerjain. Jadinya aku pakai potongan kain denim sisa pesanan. Untuk isinya karena yang aku punya dacron lembaran, jadi dacronnya itu aku sobek-sobek sampai hancur biar bisa jadi isian. Memang udah adatku, kalo beli dacron mesti yang lembaran. Jadi entah itu mau untuk digunakan dalam bentuk lembaran misal selimut atau hancur untuk isian, semuanya bisa :)
Ukuran standku nggak sama seperti yang di tutorial. Karna yang dijadikan ukuran di situ iPad, sementara smartphoneku ukurannya lebih kecil. Jadi harus bikin ukuran sendiri. Namanya lagi trance, jadi bikin ukuran sendiri juga nggak masalah. Untuk sandarannya itu, biar lebih kaku dan solid, di suruh pakai cardboard. Karena nggak ngerti gimana bentuknya cardboard yang seharusnya, jadi aku pakai kardus sepatu yang lebih tebel daripada kardus susu. Ukuran cardboard itu juga ada di situs itu, siap download. Tapi ya itu tadi, karena aku ngarang ukuran sendiri, jadi ukuran cardboardnya juga harus disesuaikan sama stand phone versiku. Caranya, setelah aku isi si stand pakai dacron, aku semat pakai jarum, terus aku ukur bagian yang akan jadi sandaran handphone. Buat polanya, potong, pasang, jadi deh!


Ornamen di belakang standnya aku pakai kancing batok bentuk bintang yang kebetulan tinggal the one and only di koleksi kancingku, hehe.. di situs itu pakai bunga dari kain perca. Tapi lagi males bikin yang repot-repot apalagi aku bikinnya pas pagi-pagi bahkan sebelum bersih-bersih ruang kerjaku, sementara masih ada deadline pesanan juga. Cari praktisnya aja. Lagipula denimnya kayak nggak matching kalo dikasih bebungaan.


Beneran suka sama proyek ini. Gampang tapi lumayan untuk penyegaran di antara pesanan-pesanan gamisku karena melibatkan dacron dan kardus :) Oh, dan denim juga. Sesuatu yang lain!  Cuma satu hal yang agak bikin nyesel. Yaitu kecerobohanku lupa meletakkan jahitannya di bagian bawah. Jatuhnya malah jadi di samping. Gegara buru-buru sih..

Btw, maaf fotonya agak buram. Karena handphone yang kameranya biasa aku pakai sedang bergaya jadi foto model, jadi terpaksa pinjam kamera yang lebih rendah resolusinya ^_^



So, enjoy the sew!

Rabu, 20 Januari 2016

recycle: milk tin can meet crochet





Udah lama banget pengen punya pot mini warna –warni yang diisi tanaman indoor. Tapi nggak pernah punya waktu buat nyari pot kecil seperti yang kuidamkan. Jadilah setiap ada wadah bekas  sebangsa kaleng atau botol nganggur, langsung aku simpen buat jaga-jaga. Siapa tau ada ide untuk nyulap si wadah jadi sesuatu yang baru. And finally I got it! Korban recycle kali ini adalah kaleng susu kental manis bekas yang aku lepas bagian atasnya. Tadinya ada ide buat ngecat kaleng ini pakai warna putih, terus di lukis pakai cat akrilik. Dipikir-pikir kok kelamaan prosesnya, pake nyari cat di gudang perkakas bapak yang aduhai berantakannya. Cari cara praktis, akhirnya kepikiran buat ditutup pakai rajutan.


Benang yang aku pakai ini benang rajut katun. Aku pilih warna putih gading kobinasi sama hijau muda dan tua biar ada efek gradasinya. Aku bukan jenis orang yang radikal untuk soal warna. Jadi jarang-jarang pilih warna ngejreng ^^ ,lagian biar matching sama tanamannya gitu lho..
Tehniknya aku pake single crochet untuk bagian putih gadingnya dan kombinasi single crochet dan half doble crochet untuk bagian hijau muda dan hijau tuanya. Hitungannya aku karang sendiri. Maksudnya biar nutupin seluruh badan kalengnya. `tau deh kok jadi ngintip gini atas sama bawah kalengnya. Tapi kata kakakku malah bagus. Jadi sedikit ada kesan urbannya . Ceilah...

 Ini proyek yang menyenangkan karna cuma butuh waktu semalam bikinnya. Maksudku, aku bikin mulai dari setelah sholat maghrib trus dilanjut setelah sholat isya` dan kelar sekitar jam setengah sembilan! Jadi Cuma sekitar 2 jam aja dan aku bukan fast crocheter juga.


Kadang aku suka mbolak-mbalik covernya. Jadi suka gantian kadang bagian hijaunya di atas, kadang di bawah_kayaknya lebih keren kalo hijaunya yang di atas. Iya nggak sih?_. Kalo pas dijemur di teras juga suka aku lepas dulu rajutannya, takut warnanya gampang pudar.



Korban selanjutnya adalah si kaleng bekas larutan penyegar, hehe.. agak sedikit tricky karena menyempit di bagian atasnya. Jadi semakin ke atas hitungan rajutannya harus dikurangi. Mau nggak ditutupin, lha wong ada tulisan “larutan penyegar”, hihi.. Lagian hijaunya kaleng nggak akur banget sama hjau benang rajutku. Untungnya nggak banyak juga bagian yang menyempit ini.



Voila! Dan inilah jadinya. Tapi kalo yang ini nggak bisa dilepas-lepas lagi kalo udah diisi tanaman, karna masuknya harus lewat atas.



Sejak nggarap  proyek kaleng-kaleng ini aku jadi sensitif kalo liat ada kaleng dibuang di jalan. Btw, botol plastik bekas bisa juga kali ya, dibuat pot-pot kecil kayak gini? Next time insyaaAllah dicoba kalo ada kesempatan lagi. Saatnya berburu korban recycle baru!!